Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Pulang.

Aku berjalan menuju simpang jalan Mengenakan pakaian hitam Beserta fantofel setinggi 7 centi Derap langkahku memecah kesunyian Dengan irama di tiap langkahnya Koran seharga duaribu telah kugelar rapi Untukku dan kamu, sebagai alas duduk nanti Kubawakan persembahan terbaik;seluruhku Sembari meramu kata demi aksara, Menanti deru astrea tua;milikmu Malam disekitarnya bisu,kelam dan tiada suatu gerak apapun Aku menanti dengan luka basah tanpa jahitan Sembari disetubuhi sesal secara brutal Tak mengenal kata ampun Menjadi ibu dari seorang cinta yang ku lahirkan–seorang diri Yk,30 April 2019

cinta, katanya

"Sebentar saja, aku ingin" rengek lelaki tua kepada istrinya; Suminah. "Tapi, saya lelah" tolak Suminah pasrah. Lampu Parjo matikan, pakaian ia tanggalkan. Ah, tapi mana peduli kata lelah ketika lelaki tengah berahi. Melayani bukankah kewajiban seorang istri? **** "Kau ingin ke Nias bukan? Sebagai istri kamu berhak menerima ini." Parjo meletakan lembaran seratusribuan. Suminah terdiam,matanya sibuk menghitung lembaran uang. Pikirannya melayang, membayangkan hal yang selama ini paling ia idamkan; Suku Banuaha. **** Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah lubang atap gubuk reyotnya. Suminah terbangun. Rupanya ia bermimpi, seusai kelelahan bercinta semalaman. Mimpi ke Nias Suminah lupakan, sprei berantakan ia rapikan. Yk, 28 April 2019

,

Darinya saya tidak hanya belajar mencintainya, namun juga sesama. Dengannya saya memahami, Mencintai tak perlu kata Saya cinta, ya sudah. Namun karnanya pula saya meyakini, Segala yang datang akan pulang. Segala yang bermula akan tuntas. Yk, 16 April 2019