tanpa nama


Malam semakin larut.
Seorang gadis duduk termangu, terpaku melihat ketiadakadaan cahaya yang menjadikan bangunan putih angkuh di hadapannya tak nampak. Hanya menyisakan gemerlap lampu warna-warni. Air begitu tenang, memantulkan cahaya keemasan bulan.

Gadis itu merajut baju hangat, dari pintalan benang deritanya. Sesekali ia bisikkan kepada langit atau ilalang yang tak terjamah manusia. Menyanyikan kidung dari jeritan batinnya paling lirih. Menimang hati yang sudah lama ia tidurkan.
   
"Kamu sedang apa? Terlalu malam dan dingin untuk  duduk di tepi waduk sendirian. Kamu bisa sakit" tanya seorang pria yang entah datangnya darimana.

"Jangan merasa tau tentang diri saya, atau saya akan menganggap diri Anda pria  asing menyebalkan" balasnya dengan mata enggan berpaling dari bangunan.

"Kamu terlalu lembut untuk berlagak kasar, Nona"

Gadis itu mengabaikan pria yang mengatur posisi duduk di sebelahnya.

"Maaf, saya merokok"

"Tak apa, saya suka," Gadis itu menghirup dalam-dalam. Matanya terpejam.

"Ku tebak kamu sedang bermasalah perihal kekasih." pria tersebut membuka suara.
 
"Dengarkan, saya akan kesulitan dalam 2 hal; berteman ataupun berpasangan" ia mulai merasa terusik ketenangan jiwanya.

"Kau pernah mencintai? Dunia terlalu sia-sia untuk kamu habiskan seorang diri"

Gadis itu menatap pria dengan tatapan menyala-nyala, menyambar apa saja yang ada di depannya.
 
"Saya hanya enggan menikah, tidak dengan mencintai" balasnya sembari berlalu pergi.


Yk, 03 Mei 2019

Komentar