kesaksian
"Ah, andai ku bisa mengamputasi penyesalan untuk
kemudian ku lemparkan kepada anjing-anjing liar kelaparan"
- Ayu Asmirah
****
Malam yang gelap gulita
Aku melihat sekeliling menjadi suram. Aku hampir saja tersesat dengan pekatnya kalau
tidak kulihat sebuah titik cahaya. Titik cahaya itu berubah menjadi nyala-nyala lampu
minyak yang menerangi sebuah perkampungan.
Malam semakin beku memaksaku untuk singgah di gubuk-gubuk arak—karena tak ada tempat lain yang bisa untuk disinggahi saat kau berada di kampung pelacuran. Di muka rumah gedek, kulihat beberapa pemuda dengan rokok di tangan kirinya dan beberapa yang lain menggenggam gelas gelas berisi arak.
"Hei, cari siapa?" teriak salah satu dengan suara
kacau saat aku mulai memasuki pelataran.
Aku melewati mereka dan masuk ke dalam tanpa
menghiraukannya.
"Siapa kau?" tanya seorang wanita tua pemilik
tempat singgah. Ia nampak mengerikan dengan wajah penuh warna-warna mencolok
seperti kanvas lukis.
"Ayu Asmirah, aku hanya sedang berjalan-jalan. Mungkin
menanti seseorang untuk mengajakku bercinta", aku jawab seenaknya saja
"Lakukanlah denganku..." saut seseorang dari
belakang, suara pria itu terdengar parau dan bergetar.
Aku tidak menolak, tetapi juga tidak bergairah.
Kepalaku penuh tanya, bagaimana mungkin akhrinya lelaki itu
berani mengeluarkan pertanyaan seperti itu...
"Sampai akhir zaman pun aku tak akan bercinta
denganmu"
"Klise" lelaki itu menarik kursi dan duduk dengan
kepulan asap
"Ya, klise... aku bahkan mengucapkan hal serupa ke
beberapa pria"
"Kejujuran dan kebohongan terdengar sama saja, tapi kau
ingin..." lelaki itu berdiri dan pergi
"Gadis-gadis selalu gelagapan saat seorang pria
mengajaknya bercinta" sang wanita tua terkekeh,
"Aku lebih memilih menenggak racun kemudian tersadar
bahwa aku telah di neraka ketimbang hidup terlalu sering berhadapan dengan
kebingungan" kataku sembari memainkan ujung gelas dengan jemari.
"Tapi kau akan dianggap gadis malang yang berdosa"
"Ahhh... aku tak peduli dianggap berdosa karena
mengakhiri hidupku, tapi aku tau setiap jiwa punya hak dan wewenang atas
kematiannya, bukan?"
Yk, 20 Februari 2021
Komentar
Posting Komentar