Ujung-ujung jariku berwarna biru. Bisa jadi karena aku sengaja mengikatnya dengan karet rambutku sehingga bukan salahnya juga kalau tanganku jadi biru. Kadang-kadang aku merasa memang begitulah dunia, begitulah hidup. Suara, gambar, sentuhan, peristiwa dan ingatan bersekongkol untuk membuat manusia menjadi bingung, heran, berpikir sejenak tapi lalu pasrah. Namun kadang aku juga ingin menyusun mereka menjadi sesuatu yang bisa kumengerti. Aku ingin berkenalan dengan kenyataan yang memusingkan. Aku ingin memberika tanda yang mungkin nantinya bisa menjadi penunjuk arah, seperti peluit dalam sebuah barisan, seperti peta. Hanya supaya aku bisa berjalan terus. Lalu aku sampai di sebuah masa dimana aku berpikir bakal ada anak menempel di balik perutku yang kemudian melengkung. Semakin besar lengkungannya, semakin ia sering berputar-putar. Aku sudah terbiasa dengannya sehingga ketika ia keluar aku merasa takjub sekaligus kehilangan. Aku akan kedinginan lagi. Akhirnya semua kata-kata, yang jelas...